Zaman Neozoikum Awal Kehidupan Manusia

By | Februari 18, 2020

Zaman Neozoikum dalam bahasa Yunani Kainos yang bearti New dan Zoe yang berarti Kehidupan. Oleh karena itu Neozoikum juga disebut Kenozoikum dan Senozoikum. Zaman ini dianggap sebagai permulaan baru kehidupan manusia. Pada zaman itu bentuk geografis bumi telah sempurna terbentuk. Selain itu manusia juga mengalami pertumbuhan yang tinggi pada masa Neozoikum. Paa urutan geologi klasik Neozoikum berada di urutan terakhir dari total 3 klasifikasi zaman.

Prediksi Terjadinya Zaman Neozoikum

Prediksi Terjadinya Zaman Neozoikum

Diperkirakan zaman Neozoikum berlangsung pada 60 juta tahun yang lalu jika dihitung dari sekarang. Pada zaman pertumbuhan populasi hewan mamalia berada di level tertingginya. Namun di lain sisi, hewan-hewan reptil justru tercatat mengalami kepunahan, hewan yang mengalami kepunahan sekelas predator bertubuh besar. Manusia mulai bisa hidup dan bertahan di bumi sebab iklim sudah stabil. Zaman Tersier dan zaman Kuarter merupakan pembagian dari zaman Neozoikum. Setiap zaman memiliki gayanya yang berbeda.

Zaman Tersier

Zaman Tersier

Pada zaman Tersier, mamalia populasinya berkembang biak dengan pesat. Kemudian manusia primata pun mulai terlihat, ciri dari manusia primata adalah menyerupai kera. Demikian juga dengan jenis orang utan yang ditemukan jejaknya pada masa Miosen. Sementara sekitar 10 juta tahun yang lalu, tercatat bahwa gorilla besar dan raksasa hidup. Kera manusia raksasa tersebut dinamakan Gigantrophus, lantaran fosilnya lebih besar daripada ukuran gorila. Fosil Gigantrophus pertama ditemukan di kaki pegunungan Himalaya tepatnya di bukit Siwalik dekat Simla, India Utara.

Gigantrophus yang hidup berkelompok melakukan migrasi dan berkembang biak di Afrika hingga Asia. Selain itu ada juga Australopithecus yang berhasil ditemukan oleh peneliti di Afrika Selatan dan Afrika Timur. Sementara pada wilayah Asia Tenggara lebih tepatnya Kalimantan Barat, peneliti berhasi menemukan fosil Anthracotherium dan Choeromous, hewan vertebrata sejenis babi purba yang populasinya tersebar di sejumlah besar daratan Asia. Letak pulau Kalimantan yang sekarang adalah akibat penggabungan Kalimantan dengan Asia.

Berikut ini adalah pembagian dua tahapan periode masa Tersier.

  • Paleosen ditandai dengan punahnya populasi reptil besar. Masa ini diperkirakan terjadi pada masa 23-65 juta tahun yang lalu.
  • Oligosen, ditemukan spesies makhluk hidup baru seperti spesies gajah baru yaitu mammoth, anjing, marsuplami, tumbuhan-tumbuhan juga bertumbuh menyebar dengan baik. Oligosen diperkirakan terjadi pada periode waktu 23-34 juta tahun yang lalu.
  • Eosen, diperkirakan terjadi pada periode waktu 33-56 juta tahun yang lalu, masa ini adalah periode yang mencatat mamalia muncul dan berkembang biak tanpa ragu.
  • Pliosen, pada fase ini iklim mengalami kekeringan hingga jutaan tahun yang menyebabkan wilayah mediterania membentuk sabana yang sangat luas. Perkiraan waktu terjadinya iklim kekeringan ini adalah 25 – 55 juta tahun yang lalu.
  • Miosen, terjadi pada periode waktu 23 hingga 53 juta tahun yang lalu, ditandai dengan penemuan intevertebrata laut dan pembentukan spesies laut baru serta hutan ganggang di dalam laut yang menjadi ekosistem banyak binatang laut

Zaman Kwarter

Zaman Kwarter

Masa ini tercatat dimulai sekitar 2,58 juta tahun yang lalu. Zaman Kwarter sendiri hanya dibagi kedalam dua tahapan, yaitu Holocene (Alluvium) dan Pleitocene (Diluvium). Berikut adalah penjelasan dari dua tahapan tersebut:

  • Holocene
zaman holocen

Pada masa Holocene, lapisan es di kutub Utara secara pasti terus mencair dan menipis. Mencairnya es pada kutub Utara mengakibatkan debit air laut menjadi naik. Kekhawatiran terjadinya bencana air bah, bisa saja terjadi kapanpun saat itu. Akibat dari naiknya permukaan laut, sebagian besar wilayah yang berada di daratan rendah menjadi tergenang dan menciptakan banyak lautan-lautan dangkal.

Mencairnya es disebabkan suhu bumi yang terus memanas. Penyebab suhu pada bumi naik, tidak lain karena pergeseran lempeng bumi sehingga menyebabkan level lempengan bumi naik serta membentuk level juga. Secara perlahan dataran tinggi purba membentuk kepulauan termasuk kepulauan nusantara.

Homo Sapiens, jenis manusia purba yang cerdaspun terlahir pada era Holocene. Manusia purba Homo Sapiens hidup dengan mulai menggunakan otaknya. Mereka menggunakan alat bantu sederhana untuk membantu bertahan hidup dan memudahkan dalam bekerja.

  1. Batu-batu gumpal berbentuk bongkahan batu sungai atau pegunungan yang besar. Fugsinya adalah ntuk menumbuk makanan.
  2. Alat bantu yang terdiri tulang dan kayu serta penetak
  3. Kapak perimbas monofasial

Alat-alat bantu tersebut memiliki betuk yang sederhana namun berfungsi besar. Manusia purba pada masa itu, membuat banyak peralatan berukuran kecil. Alat-alat tersebut yang akan digunakan memotong dan membelah, baik saat mengumpulkan maupun saat berburu.

  • Pleitocene
zaman Pleitocene

Era ini diperkirakan telah terjadi pada masa 600.000 tahun yang lalu. Pada masa ini kehidupan manusia purba semakin jelas terlihat keberadaannya. Pleitocene merupakan era setelah zaman glasial dan interglasial berakhir. Tidak heran bila kondisi alam dan hewan-hewannya pun belum stabil serta sangat liar.

Zaman Glasial atau zaman es dimana lapisan es dari kutub utara meluas hingga menutup daratan Eropa dan Amerika Utara. Dipicu dengan ar laut uang turun akibat naiknya daratan di sejumlah tempat. Padahal masa Glasial hujan lebat terus turun tanpa henti selama bertahun-tahun. Pergeseran bumi dan naiknya daratan, memicu kerja gunung-gunung berapi. Akibatnya, lautan menjadi kering termasuk di wilayah Indonesia sehingga menghasilkan Sunda Plat dan Suhu Plat.

Pada masa Glasial posisi geografis yang kita lihat pada peta sangat berbeda.

  • Kalimantan, Malaysia Barat, Sumatra, dan Jawa menjadi satu benua dengan Asia. Sementara sekarang letak geografisnya sudah terpecah.
  • Kalimantan Utara secara geografis menyatu dengan Filiphina dan Taiwan terus ke Benua Asia.
  • Sulawesi melalui Minahasa, Pulau Sangir ke Filiphina.
  • Wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Selatan berhubungan melalui Nusa Tenggara.

Sementara pada zaman Interglasial, temperatur bumi menjadi naik sehingga lapisan es di kutub utara menjadi tipis dan mencair. Peritiwa inilah yang menyebabkan air bah, tsunami dan banjir di seluruh dunia. Akibatnya peristiwa hebat terjadi, dimana daratan-daratan bergerak dan terpisah dengan adanya lautan serta selat.

Di era pleitocene hewa-hewan mengalami metamorfosis. Gajah yang sebelumnya berbulu tebal atau mamot menyesuaikan diri menjadi gajah seperti yang kita ketahui sekarang. Hewan-hewn dengan bulu lebih tipis secara naluri melakukan migrasi ke daerah tropis. Tidak heran bila hewan di pulau Jawa dan Sulawesi memiliki kemiripan hewan dengan Filipina dan Malaysia. Termasuk juga satwa dari Taiwan dan Flipina ternyata sama dengan hewan yang ada di Kalimantan. Garis Wallace menjadi garis yang membatasi jalan penyebaran satwa. Garis membentang dari selat Makasar dan Lombok.

Peneliti berhasil menemukan sejumlah besar Sinantrophus di beberapa daerah berbeda. Penemuan fosil dengan tipe yang sama tercatat ditemukan di Pekinensis, Peking, di China. Kemiripan struktur fosil juga ditemukan di dalam jejak penemuan Pithecantrophus Erectus, Trinil, Ngawi, Jawa Timur, Indonesia. Selain alat-alat purba yang ditemukan di kota Pacitan juga sama dengan yang peneliti temukan sejumlah titik lokasi berbeda, seperti : China, Burma, dan Malaysia.

Bahkan untuk nenek moyang penduduk asli Australia, suku Aborigin.  Berasal dari Homo Wajakensis yang menurunkan gen-nya melalui masa Pleitocene Tengah dan Pleitocene Atas, yaitu menghasilkan bangsa Australoid yang menyebar dari Asia ke Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *